Sertifikasi Manajer Energi, (4) MELAKSANAKAN RENCANA MANAJEMEN

Bagi anda yang mau mengikuti sertifikasi kompetensi manajer energi, maka harus memiliki keahlian dalam melaksanakan rencana manajemen energi yang telah disusun sebelumnya. Sub Kompetensi yang ditetapkan dalam SKKNI Manajer Energi terdiri dari 5 keahlian, yaitu:

  1. Menetapkan kebutuhan sumber daya manusia dalam penerapan rencana manajemen energi,
  2. Menentukan kriteria desain kinerja energi,
  3. Kriteria desain pengadaan peralatan energi, jasa dan produk,
  4. Mengendalikan parameter operasi yang mempengaruhi efisiensi energi
  5. Mengkomunikasikan kinerja energi dan sistem manajemen energi.

SUBKOMPETENSI 1 SERTIFIKASI MANAJER ENERGI

Menetapkan kebutuhan sumber daya manusia dalam penerapan rencana manajemen energi. Sistem manajemen energi berkelanjutan memerlukan keterlibatan pimpinan puncak guna menghindari terjadinya kondisi pemanfaatan energi yang tidak terkendali, membantu organisasi menyusun sistem untuk mengontrol penggunaan energi, menjaga kecenderungan turunnya konsumsi energi serta mempertahankan hasil penghematan energi pada tingkat yang maksimal.

Dari waktu ke waktu, sistem manajemen energi yang berjalan dengan baik akan menurunkan biaya energi seperti seperti tampak dalam gambar di bawah ini.

dampak manajemen energi training dansertifikasi manajer energi

Prinsip dasar dalam manajemen energi khususnya di level pembuat keputusan adalah adanya komitmen dan iklim kondusif yang diciptakan untuk perbaikan efisiensi energi di lingkungan organisasi. Di tingkat staf dan operator penerapan manajemen energi dibangun dengan menyatukan ide-ide perbaikan efisiensi energi dalam kegiatan operasional.

Salah satu kendala mengapa perusahaan belum menerapkan manajemen energi adalah karena seringkali (perusahaan/owner) belum melihat manfaat konservasi energi dari prospektif ekonomi jangka pendek. Sementara pada level middle management, pemahaman (management skill)nya belum memadai sehingga mereka kesulitan dalam membuat proposal proyek energi.

Salah satu bentuk komitmen manajemen adalah dengan mengirim tim operasional untuk mengikuti training yang relevan, seperti training dan sertifikasi manajer energi.

SUBKOMPETENSI 2 SERTIFIKASI MANAJER ENERGI

Menentukan kriteria desain kinerja energi pada proses desain. Dalam menentukan kriteria desain kinerja energi, yang perlu dilakukan terlebih dahulu adalah menentukan indikator kinerja energi, kriteria disain, siapa yang terlibat dalam penerapan, dan dimana diterapkan perlu ditetapkan sebelum pelaksanaan.

Indikator kinerja energi yang umum digunakan adalah intensitas energi. Intensitas energi menunjukkan besaran energi yang digunakan untuk suatu aktifitas yang menghasilkan produksi atau jasa. Dengan kata lain intensitas energi adalah perbandingan antara input energi (konsumsi) dengan output (produk atau jasa) yang dihasilkan. Intensitas energi sering juga disebut dengan istilah lain yaitu “konsumsi energi spesifik’’.

Intensitas energi dapat dibuat dengan formulasi berbeda, masing-masing dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan spesifik maupun pertanyaan umum terkait dengan efisiensi pemanfaatan energi. Oleh karena itu indikator efisiensi energi dibedakan berdasarkan level organisasi dan peralatan energi yang dioperasikan sebagaimana tampak pada gambar berikut.

sertifikasi manajer energi piramida indikator kinerja energi

Indikator kinerja energi dapat digunakan dalam berbagai keperluan mulai dari pengadaan peralatan energi hingga evaluasi hasil penghematan energi. Dalam proses pengadaan peralatan pemanfaat energi, indikator kinerja energi dimaksudkan sebagai bahan evaluasi efisiensi penggunaan energi dan biaya energi suatu produk atau perlatan energi relative terhadap yang lain (benchmarks).

Ukuran intensitas dapat berupa satuan fisik atau monetary units. Tipe dari indikator juga dapat bervariasi tergantung pada sifat analisis yang digunakan. Aplikasi indikator dengan ukuran monetary units biasanya digunakan untuk analisis efisiensi energi pada tingkat makro, sedangkan intensitas energi yang menggunakan satuan fisik umumnya diterapkan pada level sektor dan subsektor. Efisiensi adalah kebalikan dari intensitas energi, efisiensi energi dimaksudkan untuk mengetahui seberapa banyak energi digunakan dalam menghasikan suatu produk.

SUBKOMPETENSI 3 SERTIFIKASI MANAJER ENERGI

Menentukan kriteraia kinerja energi pada pengadaan jasa energi, produk dan peralatan energi. Kegiatan penentuan kriteria desain pengadaan peralatan energi, jasa dan produk diawali dengan penetapan indikator kinerja, kriteria disain berdasarkan indikator kinerja peralatan, jasa dan produk, siapa yang terlibat dalam penerapan dan obyek dimana diterapkan.

Peralatan energi yang tersedia di pasaran mempunyai efisiensi energi bervariasi. Untuk itu bagian pengadaan harus memahami indikator kinerja peralatan, jasa atau produk sebelum membeli.

Pengadaan yang hanya didasarkan atas harga awal dan kapasitas peralatan pemanfaat energi umumnya kurang baik. Kriteria pengadaan seperti ini cenderung membuat biaya pengadaan rendah, tetapi biaya operasi tinggi. Untuk mendapatkan hasil optimal maka kriteria pengadaan selain harga dan kapasitas, kinerja energi peralatan dan sistem kendali yang diterapkan juga harus masuk dalam pertimbangan. Lebih banyak studi kasus atau contoh penerapannya, dapat anda temui ketika mengikuti training dan sertifikasi manajer ini.

Pemilihan peralatan energi berbasis kinerja cendrung membuat biaya operasi turun dan biaya keseluruhan (life circle cost) menjadi minimum. Agar mendapatkan hasil terbaik, proses pengadaan dilakukan dengan mengikuti langkah berikut.

  • Menentukan supplyer peralatan paling tidak tiga atau lebih,
  • Supplyer peralatan dan jasa energi diminta menyediakan informasi tentang konsumsi dan kinerja pemanfaatan energi serta standard yang diacu,
  • Kinerja energi masuk dalam kriteria pengadaan peralatan dan pengambilan putusan.

SUBKOMPETENSI 4 SERTIFIKASI MANAJER ENERGI

Mengendalikan parameter operasi yang mempengaruhi efisiensi. Agar efisiensi operasi sistem atau peralatan energi optimum, maka parameter operasi kritis dari sistem/peralatan energi tersebut harus dikendalikan.

Target dan sasaran manajemen energi yang ditetapkan secara spesifik saat perencanaan, dibangun berdasarkan pertanyaan sederhana W2H berikut :

  • Where (dimana) pengguna energi significant ?
  • What (apa) sebab terjadi pemborosan energi ?
  • How (bagaimana) meningkatkan efisiensi energi/menghilangkan pemborosan ?

Pada industri yang kompleks, ribuan peralatan energi dioperasikan secara bersamaan. Kinerja energi dapat bervariasi tergantung desain teknologi dan sistem pengendalian parameter operasi yang digunakan. Langkah perbaikan efisiensi harus dibangun dari kesadaran, sikap dan keahlian operator. Diterapkan secara berkelanjutan, bukan sebagai upaya sesaat dan terputus. Salah satu caranya dengan mengikuti training secara berkala dan sertifikasi manajer energi.

Parameter operasi. Salah satu contoh yang sering ditemui adalah suhu dan komposisi gas buang pada sistem pembakaran. Kedua parameter tersebut mempengaruhi konsumsi bahan bakar secara significant seperti terlihat pada gambar di bawah. Semakin rendah suhu gas buang semakin sedikit rugi-rugi energi ke cerobong. Sebagai acuan praktis (rule of thumb) dapat digunakan patokan berikut: Setiap suhu gas buang turun 20C, efisiensi boiler naik 1%.

parameter kritis pembakaran sertifikasi manajer energi

Parameter kritis proses industri. Seperti pada utilitas energi, pada proses industri juga ada parameter operasi yang mempengaruhi konsumsi energi dan kinerja energi. Sebagai contoh di industri besi – baja, pada electric arc furnace (EAF) parameter operasi adalah suhu tapping, dan densitas scrap (berat scrap per charging).

Pengendalian parameter operasi. Manajemen organisasi harus merumuskan prosedur kerja sebagai panduan untuk seluruh staf agar dipraktekkan dalam kerja keseharian mereka. Ada dua tingkatan prosedur kerja yang diperlukan dalam pengendalian operasi yaitu :

  • Tingkat organisasi, Prosedur kerja manajemen energi / Energi Management Working Procedures (EM-WP), dibuat oleh manajemen.
  • Tingkat unit kerja (Energi Accounting Center – EAC), EAC-Working Procedures (EAC-WP), dibuat oleh kepala EAC.

SUBKOMPETENSI 5 SERTIFIKASI MANAJER ENERGI

Mengkomunikasikan kinerja energi dan sistem manajemen energi. Jalur yang digunakan untuk komunikasi dan proses pelaporan manajemen energi adalah jalur internal dan eksternal. Manajer Energi akan membuat laporan bulanan mengenai aktivitas manajemen energi dan kemajuan pelaksanaan terhadap target-target kepada manjemen representatif atau komite manajemen energi. Komunikasi formal yang berkaitan pengendalian konsumsi energi oleh end user atau pemangku anggaran akan diarahkan melalui manajer energi.

Hal yang perlu dilaporkan ke petugas terkait antara lain hasil analisis data yang mengindikasikan peluang peningkatan efisiensi energi. Manager energi harus mendesain sistem pelaporan yang menjamin bahwa informasi disampaikan ke orang yang benar. Tipe laporan yang direkomendasikan dalam sistem manajemen dapat dikatagorikan berdasarkan fungsi dari user. User atau stakeholder yang terlibat dalam sistem manajemen energi diantaranya adalah Top Management (CEO), Accounting Manager atau Finance Manager, Human Resource Manager, Purchasing Manager, dan Engineering, Utility atau Production Manager

Laporan ke top manajemen dimaksudkan untuk menyampaikan informasi yang relevan tentang status kegiatan konservasi energi dan konsumsi energi. Informasi harus disampaikan secara jelas dan ringkas hasil analisis dan target manajemen untuk tujuan perbaikan. Analisis teknikal secara rinci tidak diperlukan dalam hal ini. Semua informasi aktual harus ditampilkan secara bersamaan dengan target yang ditentukan sehingga top manajemen dapat membandingkannya dan memberi penghargaan atas pencapaian yang diperoleh.

Laporan ke manajer financial memuat informasi relevan tentang status terkini tentang konsumsi energi dan status finansial terkait tentang langkah implementasi. Informasi harus memuat secara jelas ringkasan hasil analisis dan target perbaikan. Laporan juga menjelaskan estimasi biaya yang dibutuhkan untuk langkah perbaikan efisiensi berikutnya.

Tentunya, uraian lebih jelas disertai dengan contoh kasus penerapannya di berbagai organisasi akan dapat anda temui ketika mengikuti training dan sertifikasi manajer energi ini.